Luruskan niat sempurnakan ikhtiar akhiri dengan tawakal.

Tuesday, 11 September 2012

Berlomba Dalam Kebaikan

Berlomba Dalam Kebaikan

Kita sebagai seorang anak muda yang bisa juga dibilang Ababil (ABG Labil) -termasuk saya- memang sangat gereget sekali dengan istilah perlombaan. Baik lomba-lomba seperti cerdas cermat, debat, baca puisi atau bahkan lomba 17-an sekalipun. Ini karena hormon kita yang banyak mengandung ego yang tinggi sehingga membuat kita tidak mau kalah dengan siapapun, selalu ingin jadi yang terbaik dan tidak pernah mengaku bahwa dirinya sendiri memiliki kekurangan. Yah, itulah perlombaan anak muda. Dibilang seru, mungkin. Dibilang parah, mungkin. Dibilang biasa aja, mungkin juga (?).

Tapi tentu sudah kewajiban bagi seseorang yang memiliki wawasan tentang hal ini memberikan sosialisasi kepada para "Ababil" ini agar tidak terjadi hal-hal yang (tidak?) diinginkan. Saya sendiri adalah seorang Muslim, kebetulan BAB PAI saya yang pertama membahas mengenai hal ini.

Pembahasanya ada pada QS. Al-Baqarah 2:148 yang artinya "Dan bagi tiap-tiap umat memiliki kiblatnya masing-masing, maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimanapun kamu berada Allah akan mengumpulkanmu di akhirat nanti. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"

Kalo kita tinjau lebih dalam, ayat yang satu ini bersifat universal. Karena isinya adalah perintah untuk berlomba dalam kebaikan
. Dari buku pegangan yang saya punya, maksud ayat tersebut adalah kita sangat menyadari bahwa manusia memiliki berbagai macam kepercayaan, maka kita harus berlomba dan bersaing dalam kebaikan untuk membuktikan ke-eksisan Agama kita. Tentunya secara tidak langsung, kita juga meningkatkan keimanan kita pada Agama kita dengan kita selalu berlomba dalam kebaikan.

Contoh konyolnya, misalkan kita punya temen yang lain kepercayaan. Kebetulan pulang searah sama dia. Berhubung kamu sama dia adalah orang yang menghargai keberadaan bumi, kamu sama dia lebih memilih pulang dan pergi sekolah dengan menggunakan fasilitas umum seperti Angkutan Kota (Angkot a.k.a Ancot or something like that!). Waktu nyampe di lampu merah a.k.a stoppan, ada seorang pengamen yang menyanyikan lagu D'Bagindas - C.I.N.T.A , kamu lihat temen kamu mulai merogoh saku bajunya untuk mengambil uang untuk si pengamen dengan uang pecahan Rp. 50.000 perak, lalu dia bilang sama kamu "Eh, kalo di Agama-ku, ngasih uang ke orang yang enggak mampu tuh disukai Tuhan loh! Apalagi kalo jumlahnya banyak." kamu jawab "Agama aku juga kok!." Akhirnya kamu pun merogoh saku baju kamu dan nemu uang Rp. 100.000 perak. Kamu dan dia memberikan kepada si pengamen bersamaan karena kamu sama dia ingin menunjukan eksistensi agama masing-masing. Alhasil, si pengamen bersyukur dan nari-nari kegirangan (?) dan kamu sama dia pun senang karena telah menunjukan eksistensi agama yang dianut.


Al-Biruni


Al-Khawarizmi

Mungkin beberapa temen-temen ada yang pernah denger nama Al-Biruni. Beliau adalah seorang muslim yang menuliskan tabel tangen kosinus yang pertama di dunia. Atau mungkin pernah denger nama Khawarizmi. Beliau dijuluki bapak matematika karena beliau mengemukakan penemuanya di bidang matematika yang kita pelajari pas SMP yaitu Aljabar. Dua orang ini secara teknis sangat memahami ayat di atas. Mereka menunjukan eksistensi Islam dengan berlomba dalam kebaikan, dalam hal ini adalah pendidikan.

So, buat temen-temen yang muslim, akankah kita jadi salah satu orang yang berhasil berlomba untuk Agama kita di kancah dunia? Atau hanya sekedar menunjukan eksistensi agama kita pada temen-temen kita dengan melakukan berbagai aplikasi dari ajaran kita. Atau temen-temen cukup puas dengan hanya nama agama temen-temen di KTP?

Mari Berlomba Guys!!! sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...