Luruskan niat sempurnakan ikhtiar akhiri dengan tawakal.
Showing posts with label AGAMA ISLAM. Show all posts
Showing posts with label AGAMA ISLAM. Show all posts

Thursday, 30 March 2023

*#TTS09. Ikat Ilmu dengan Menuliskannya*



_Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya_

_Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat_

_Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang_

_Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja_

*(Imam Syafi’i).*


@TemanSurga, manusia itu sering banget lupa. Terutama dalam urusan menimba ilmu. Banyak buku yang dibaca, tapi sedikit yang nempel di kepala. Sayang banget. Padahal udah ngorbanin waktu, harta, dan pikiran untuk menimba ilmu. Tapi hasilnya zonk!


Eits, gak usah nyesel bosqu. Insya ALlah proses menimba ilmu kita tetap berpahala. Jangan lantas baperan terus mogok baca. Santai aja bro sis. Yang mesti kita pikirin, gimana caranya biar ilmu yang kita timba gak mudah lupa. 


Nah, nasihat Imam Syafi’i di atas pas banget tuh. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Jangan sia-siakan kesempatan kita untuk berburu ilmu dengan membiarkan hikmah itu masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Nggak ada bekasnya. 


Biasain deh untuk menuliskan setiap tetesan hikmah yang kita dapat dari baca buku, dengar nasihat ulama, atau nyimak kajian online. Apalagi di era digital hari gini, banyak fasilitas yang bisa kita pakai untuk mengikat ilmu. Dari mulai screen shot, record audio, notes, hingga rekaman video. Jangan dipakai buat titokan aja. 


Lihat para ulama dulu, mereka minim fasilitas, tapi karya tulisnya tak terbatas. Mereka membiasakan diri mengikat ilmu dengan menuliskannya pada media apa aja yang ada. 


*Sa’îd bin Jubair* mengatakan : _“berapa kali saya mendatangi Ibnu ‘Abbâs dan saya tuliskan (ilmu dari beliau) di atas lembaran-lembaran kertas dan mendiktekannya, saya tulis di sandal dan sepatuku (khuf) dan mendiktekannya…”_


Selagi banyak waktu #DiRumahAja, yuk #TetapProduktif dengan banyak baca buku dan bikin resumenya. Atau bagikan kutipan inspiratifnya di sosial media. Ilmunya dapat, pahala juga dapat. Double untungnya. Kuy![]

Wednesday, 29 March 2023

*#TTS08. Baca Buku, Banyak Tahu, Banyak Ilmu*

 

#TemanSurga, *buku adalah jendela dunia*. Begitu sebuah pepatah mengatakannya. Bahkan dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus beranjak dari kursi. Duduk, baca, dan berimajinasi. Novel-novel best seller pun lahir dari keasyikan ini.


Kalo kita kepoin kehidupan tokoh-tokoh besar di negeri ini, nama besar mereka pun ditopang oleh *kegemarannya membaca buku di usia muda*. 


*Ir. Soekarno*, bapak proklamator Kemerdekaan Indonesia ini doyan banget baca buku sejak muda. Dengan membaca buku, beliau 'bertemu' dengan tokoh-tokoh dunia di masanya dan menimba ilmu dari mereka sehingga beliau sangat piawai dalam berpidato. 


*Moh. Hatta* yang dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia, juga kolektor dan pembaca buku sejak usia 17 tahun. Dengan membaca, beliau mampu menguasi 4 bahasa, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman, dengan mumpuni. 


*BJ. Habibie*, bapak dirgantara Indonesia ini juga gak kalah kerennya. Sejak kecil beliau terbiasa menghabiskan waktu di dalam kamarnya untuk melahap buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan penerbangan. 


Tak heran jika kecerdasannya mampu menyumbangkan berbagai hasil penelitian dan sejumlah teorinya untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika.


Udah sunatullah, mereka yang doyan baca buku wawasannya lebih maju. Banyak tahu info terbaru. Dan ilmunya tak lekang oleh waktu. Karenanya, *secara tidak langsung Islam begitu memuliakan orang-orang yang hobi baca buku*. 


_“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”_ *(QS Al Mujadalah: 11)*


Daripada gabut nungguin bedug maghrib, mending #TetapProduktif dengan banyak baca buku. Kuy![]



Monday, 27 March 2023

Ngejar Pahala, Nggak Pake Lama!*


 *#TTS06. Ngejar Pahala, Nggak Pake Lama!*


@TemanSurga, kalo usia kita panjang, bisa jadi banyak waktu yang dipakai untuk menuntut ilmu dan menebar manfaat. Kalo harta berlimpah, mungkin akan lebih banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang membutuhkan.


Tapi pertanyaannya, benarkah kalo usia kita panjang akan lebih banyak menebar manfaat? Atau malah dipake hura-hura mengejar kesenangan dunia? 


Yakinkah kalo harta kita berlimpah akan lebih banyak bersedekah? Atau malah terjerumus dalam gaya hidup mewah?  


Ingat kak, kontrak kita di dunia bisa berakhir kapan aja tanpa ada pemberitahuan. Rezeki juga bisa luas atau sempit tak melulu sesuai yang kita inginkan. Maut itu sesuatu yang pasti. Sementara usia panjang dan harta berlimpah masih misteri. 


Ali ibn Abi Thalib ra mengingatkan kita, _*“Sungguh aku heran melihat seseorang yang mengejar sesuatu yang tidak pasti. Dan tidak ada yang sangat tidak pasti selain kehidupan. Aku pun heran melihat seseorang melupakan kepastian. Dan tidak ada yang sangat pasti selain kematian.”*_


Itu artinya, jangan pernah berangan entar kalo udah tua baru fokus belajar agama. Atau entar kalo banyak harta baru tergerak membantu sesama. 


Kalo pengen hidup kita berkah, stop menunda-nunda berbuat baik. Karena itu adalah godaan setan yang menyesatkan. 


Sufyan ats-Tsaury rahimahullah mengingatkan, _*“Jika engkau ingin mengeluarkan shadaqah, atau melakukan sebuah kebaikan, atau amal shalih, maka segera laksanakan sejak saat itu, sebelum syaithan menghalangi dirimu untuk melakukannya.”*_


Berapapun usia kita, bersegeralah untuk mengejar pahala. Berapapun harta yang kita punya, bersegeralah bantu sesama. Ini yang bisa bikin hidup kita berkah dan mulia. Selagi Ramadhan, Yuk action! []


GEBER TERUS AMAL SALEHNYA!*

 

*#TTS05. GEBER TERUS AMAL SALEHNYA!*

@TemanSurga, ketika Allah swt berfirman, _“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”_ *(QS. Al-Anbiya: 107)*

Itu artinya, _“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”_ (Tafsir ath-Thabari)

Bahagianya sebagai seorang muslim, lantaran *Rahmat Allah swt senantiasa menaungi kita di dunia dan di akherat.* Apalagi di bulan Ramadhan, limpahan Rahmat Allah swt untuk hambaNya, nggak kenal kadaluarsa. Ngalir terus biar hambanya jadi orang-orang yang bertakwa.

*_“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru, ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam.” (HR. Tirmidzi 682)_*

Makanya kebangetan kalo seorang muslim ogah-ogahan jalanin amal sholeh Ramadhan. Padahal Allah swt udah tutup pintu neraka, dibuka pintu surga dan setan-setan dibelenggu tak berdaya. Biar kita-kita nih, pada semangat menjemput rahmat. Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ibadah sunahnya nggak ketinggalan. Sedekahnya selalu disiapkan. Setiap waktunya diisi tadarusan. Seolah ini terakhir kita bertemu Ramadhan.

Ayo geber terus amal salehnya. Dan jauhi amal salahnya. Demi melayakkan diri jadi penghuni surga. Yuk! []


Saturday, 25 March 2023

NGGAK PERLU DISPILL, ALLAH TAHU KOK!*


 *#TTS04. NGGAK PERLU DISPILL, ALLAH TAHU KOK!*


@TemanSurga, ketaatan kita pada Allah swt itu seharusnya gak kenal waktu dan tempat. Baik ketika sendiri atau beramai-ramai, kita harus tetap konsisten menjauhi perilaku maksiat. Karena kita super yakin kalo ALlah swt itu Maha Melihat apa yang kita lakukan. Maha mengetahui apapun yang kita sembunyikan. 


Lucunya, terkadang ada diantara kita yang dengan pedenya pilah pilih tempat untuk tetap taat atau melanggar syariat. Ketika mau shalat tarawih atau hadir di pengajian, busananya sempurna menutup aurat. Tapi giliran main bareng teman sohib ke mall, bajunya kekurangan bahan. Pergi ke warung dekat rumah, cuek aja pakai baju rumahan. Emang nggak vulgar, tapi tetep aja aurat terumbar. Ini nggak wajar. 


Niatnya puasa, tapi cuman formalitas aja ikut sahur dan buka. Tapi giliran perut keroncongan, tanpa rasa bersalah mampir ke toko sebelah. Ngemil sembunyi-sembunyi. 


Hey..! Orang lain emang gak tahu kemaksiatan yang kita lakukan saat berduaan dengan demenan baik di dunia maya atau dunia nyata. Orang tua emang gak lihat saat kita batalin puasa. Guru pun gak denger ketika kita gosipin di belakangnya.  


Tapi kita mesti ingat, sepiawai apapun kita menyembunyikan kemaksiatan, ada catatannya. Nggak perlu dispill. Semuanya bakal terbongkar dengan sendirinya saat hari penghisaban. Gak bisa tuh kita bersilat lidah dengan berbagai alasan. Allah Maha Melihat dan Malaikat selalu mencatat. 


Allah swt mengingatkan kita, _*“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”*_ *(QS. Al-Hadid: 4)*


Jadi, jangan coba-coba melanggar syariat. Apalagi di bulan mulia. Mending kuatkan pondasi keimanan kita pada Allah swt dengan selalu ikut pengajian. Biar ada yang mengingatkan. Kencengin ibadahnya, biar selalu ingat pada-Nya. Kuy! []

Friday, 24 March 2023

PUASA TAPI ZONK PAHALA, CELAKA!*

 


*#TTS03. PUASA TAPI ZONK PAHALA, CELAKA!*

@TemanSurga, apa kabar puasa kamu? semoga baik-baik saja ya. Tanpa kurang suatu apa pun. Syukur-syukur tambah banyak amal sholeh yang udah dan rutin dikerjain. Mulai dari shalat tharawih berjamaah di mesjid, tiada hari tanpa baca qur'an, bersedekah dan tentunya puasanya juga poll.

Jangan sampai kita termasuk orang yang rugi bin tekor di bulan penuh berkah ini. Berpuasa tapi zonk alias tanpa pahala! Seperti diingatkan Rasulullah saw dalam sabdanya,

_“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia *tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga (haus) saja”* (HR. Ibnu Majah)._

Ulama Jabir bin ‘Abdillah menasihat kita : _“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. *Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”*_

Kebayang ya gimana tekornya kalo puasa kita cuman fokus nahan lapar, haus, atau hal-hal yang membatalkan puasa aja. Tapi lalai dengan perbuatan yang justru bisa merusak pahala puasa kita.

Matanya masih jelalatan berburu aurat. Omongannya masih doyan ngebully sahabat. Nge-prank teman dekat. NGegosip sambil ngabisin waktu. Atau berpacaran. Ini mah namanya STMJ alias *Shaum Terus Maksiat Jalan.* Ya bisa-bisa dapatnya cuman dahaga dan keroncongan. Pahalanya nggak kebagian lantaran melanggar aturan. Rugi teman!

Padahal justru di bulan penuh berkah ini, kita diajak berlomba-lomba mengejar pahala yang berlipat ganda. Dan bersusah payah menahan diri dari godaan maksiat dari segala arah.

So, jangan sia-siakan Ramadhanmu. Gas poll terus amalan wajib dan sunnahnya. Biar gak nyesel di akhirat. Berangkaaat...![]

Sunday, 25 October 2015

TAHFIDZ BAG.2 Metode menghafal Al-Qur’an

TAHFIDZ BAG.2



Metode menghafal Al-Qur’an
A. Perangkat penunjang yang dibutuhkan
  1. Mushaf standar Madinah.
Dipakai karena standar internasional dan letak posisi ayat dan surat sama seluruh dunia.
  1. MP3 player atau HP yang memiliki MP3 player.
Untuk memutar file murottal yang akan dihafalkan dalam rangka membiasakan telinga mendengarnya sehingga bacaan tersebut tidak asing.
  1. Buku evaluasi hafalan dan muroja’ah.
Sebagai evaluasi usaha menghafal dan menjaga kedisiplinan muroja’ah dan menghafal.
B. Cara menghafal
  1. Niatkan untuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah azza wa jalla.
  2. Hafalan dimulai dari juz 30, dari surat An-Naba’ sampai An-Nas, kemudian dilanjutkan dengan juz 29, juz 28, juz 1, juz 2, dst.
  3. Memberi kode halaman berdasarkan lembarannya. Lembar ke-1 halaman depan diberi kode 1A, halaman belakang 1B. Lembar ke-2 halaman depan diberi kode 2A, halaman belakang 2B, dan seterusnya[1]. Ini bertujuan untuk mengindeks surat dan ayat dalam hafalan kita untuk memudahkan pencarian jika dibutuhkan.
  4. Membagi hari dalam 1 pekan (7 hari) menjadi: 5 hari untuk menghafal dan 2 hari untuk muroja’ah halaman yang dihafalkan.
  5. Secara umum 1 halaman mushaf Madinah terdiri dari 15 baris, maka kita rinci sebagaimana berikut:
(a)    15 baris dihafalkan selama 5 hari (15 : 5 = 3), sehingga target dalam sehari menghafalkan 3 baris.
(b)   Hari pertama menghafalkan 3 baris pertama, hari ke-2 menghafalkan 3 baris ke-2, dan seterusnya sampai selesai 1 halaman di hari ke-5.
(c)    Hari ke-6 dan ke-7 mengulang-ulang (muroja’ah) hafalan 1 halaman sampai lancar.
  1. Cara mempercepat proses menghafal yaitu membaca 3 baris secara langsung (bukan per ayat) sebanyak 20 kali[2], dengan rincian:
(a)    Diupayakan selesai untuk sekali duduk dan tidak diselingi dengan aktivitas lain (harus fokus membaca). 20 kali baca untuk 3 baris dibutuhkan waktu antara 5-10 menit (tergantung kecepatan baca). Itu artinya untuk sekali duduk harus disediakan waktu 5-10 menit.
(b)   Agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari dan agar proses menghafal ini tidak menjadi beban yang sangat berat maka membaca 3 baris sebanyak 20 kali ini hendaknya dilakukan setiap selesai sholat fardhu (3 baris yang sama di hari yang sama).
(c)    Jika di hitungan ke-15, misalkan, sudah mulai hafal maka lanjutkan membaca sampai ke-20 dengan menutup mushaf (membaca dengan hafalan).
(d)   Setelah selesai, kembalilah pada rutinitas sehari-hari dan ulangilah langkah-langkah ini di waktu sholat berikutnya.
(e)    Hari ke-2, lanjutkan ke 3 baris ke-2 tanpa perlu mengulang-ulang lagi 3 baris pertama dan demikian seterusnya sampai selesai di hari ke-5.
(f)    Hari ke-6 dan ke-7, membaca 1 halaman keseluruhan dan diulang-ulang minimal 4 kali setiap selesai sholat fardhu atau menyediakan waktu khusus (seperti ba’da sholat maghrib sampai isya’) untuk mengulang-ulang sebanyak 20 kali (waktu sekitar 25-50 menit).
(g)   Semua langkah di atas hendaknya diiringi dengan setiap saat (selain waktu menghafal) mendengarkan murottal halaman yang dihafalkan menggunakan mp3 player atau HP dengan perangkat headset (jika dikhawatirkan mengganggu orang lain) untuk mempercepat proses menghafal[3].
(h)   Jika semua langkah di atas dilaksanakan dengan disiplin dan istiqomah, insya Allah dalam sepekan sudah hafal 1 halaman dan hari ke-8 sudah bisa menghafal halaman berikutnya.
  1. Jika sudah memiliki hafalan 1 halaman maka muroja’ahnya adalah dengan membaca halaman yang sudah dihafal (misal: 1A) minimal sekali dalam sehari atau juga bisa dijadikan bacaan dalam sholat dengan tanpa mengganggu jadwal aktivitas menghafal halaman berikutnya.
  2. Jika sudah memiliki hafalan 1 lembar (misal: 1A dan 1B) maka muroja’ahnya adalah hari pertama muroja’ah 1A, hari ke-2 muroja’ah 1B, hari ke-3 muroja’ah 1A, dst. (Secara rinci dipandu di buku evaluasi menghafal dan muroja’ah)[4].
Setoran Hafalan
Sebagai bahan evaluasi dan untuk memacu semangat serta menjaga keistiqomahan dalam menghafal Al-Qur’an maka hafalan harus disetorkan kepada ustadz yang bersedia menerima setoran hafalan yang terdekat dengan tempat tinggal Anda. Jika tidak mendapatkan maka kami menyediakan layanan setor hafalan melalui HP di call center kami.
Keutamaan menghafal Al-Qur’an
  1. Lisan selalu basah dengan dzikir yang paling utama, yaitu membaca Al-Qur’an.
  2. Mempercepat naiknya iman sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di ketika menafsirkan ayat: Dan apabila dibacakan pada mereka ayat-ayat-Nya maka ayat-ayat itu menambah iman pada mereka. (Al-Anfal: 2).
  3. Mendidik seseorang jauh dari maksiat dalam rangka menjaga hafalan yang susah payah dia hafalkan.
  4. Mendidik seseorang meninggalkan kesia-siaan dan memanfaatkan waktu dengan ibadah.
  5. Tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
  1. Mengapa target hafalan per halaman kok bukan per surat?
Ini bertujuan untuk tetap menjaga semangat dalam menghafal. Tidak dipungkiri bahwa yang menyebabkan kita merasa tidak mampu dan putus asa dalam menghafal selama ini adalah ketika melihat surat-surat yang panjang seperti surat Al-Baqoroh, Ali Imron, dll. Terbayang dalam benak: kapan bisa menyelesaikannya sementara surat yang pendek saja susah hafalnya. Akhirnya kita merasa cukup dengan surat-surat pendek saja. Dengan memperkecil target, insya Allah itu bisa menjaga semangat karena tidak lagi terpengaruh dengan panjang pendeknya surat yang dihafal. Bahkan setiap halaman yang sudah di hafal semakin menambah semangat untuk menghafal halaman berikutnya.
  1. Mengapa mengulang-ulang bacaan tidak per ayat?
Metode ini bertujuan untuk membiasakan menghafal dengan kalimat panjang karena tidak selamanya kita akan menghafal ayat-ayat pendek. Bahkan seiring waktu kita membiasakan hafalan Al-Qur’an, bisa jadi kita bisa menghafal 1/2 halaman sekaligus atau 1 halaman sekali duduk. Jika demikian maka semakin cepat waktu kita bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (tidak lagi 12 tahun). Akan tetapi ini tergantung pada kemampuan masing-masing individu yang tidak sama dan tidak bisa dipaksakan.
  1. Apakah saya mampu sementara saya memiliki aktivitas sehari-hari yang demikian menyibukkan?
Pepatah Arab mengatakan: Man jadda, wajada (siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka dia akan menapatkan).
Maka demikian juga kami katakan. Semua kembali kepada pertolongan Allah, kemudian kesungguhan usaha masing-masing.
Kehadiran program ini memang untuk memberi solusi bagi orang-orang seperti Anda. Kalau seseorang bisa menghafal Al-Qur’an karena dia fokus dalam masalah itu dan tidak diganggu dengan urusan lain, maka itu suatu hal yang wajar dan seharusnya memang demikian. Tapi jika ada orang yang sudah disibukkan dengan aktivitas sehari-hari kemudian bisa menghafal Al-Qur’an maka ini yang luar biasa.
Anda coba dulu metode ini dengan disiplin dan istiqomah, jika ada kendala bisa kita diskusikan untuk mencari jalan keluarnya.
  1. Bagaimana dengan halaman yang terdapat pembatas surat seperti juz 30 lembar 1B?
Tetap Anda hafalkan sebagaimana terdapat dalam halaman tersebut. Keuntungannya adalah kita menghafal sekaligus urutan surat-suratnya.
  1. Bagaimana kalau saya sudah hafal juz 30 apakah saya harus mengulang hafalan sesuai metode ini?
Tidak perlu! Anda langsung menghafalkan juz 29. Yang Anda butuhkan untuk juz 30 hanyalah metode muroja’ahnya saja dan itu Anda akan dapatkan dalam buku evaluasi menghafal dan muroja’ah.
  1. Jika di baris ke-3 akhir ayat ada di tengah baris, apakah saya harus menghentikannya di akhir baris atau di akhir ayat?
Ukuran tiga baris ini tidak paten harus tiga baris penuh, tapi menyesuaikan dengan kondisi akhir ayat. Jika akhir ayat ada di tengah baris maka Anda hentikan bacaan di sana, sementara sisa bacaan ayat di baris tersebut diikutkan ke 3 baris berikutnya. Jadi ini bukan suatu yang paten, tapi fleksibel menyesuaikan keadaan.
  1. Bagaimana jika mengulang-ulang bacaan itu kurang dari 20 kali?
Saya pernah mempraktekkannya dan ternyata hasilnya hafalan kurang kuat. Sepertinya 20 kali itu ukuran minimal, jika lebih maka lebih baik. Allahu a’lam.
  1. Apa saja kiat untuk memperkuat hafalan?
1.      Berdoa kepada Allah untuk dimudahkan dan dikuatkan hafalan.
2.      Hindari maksiat.
3.      Jaga kehalalan dan kethoyyiban makanan kita.
4.      Disiplin dalam muroja’ah.
  1. Saya sudah tua, apakah saya bisa mengikuti program ini?
Tidak ada satu pun yang bisa dan boleh menghalangi seseorang untuk beramal sholeh, lebih-lebih dalam menghafal Al-Qur’an yang merupakan petunjuk dari Allah. Apakah bisa menyelesaikan hafalan sesuai dengan target, serahkan semua hasilnya kepada Allah. Bukankah yang dinilai oleh Allah adalah kesungguhan usahanya, bukan semata-mata hasilnya? Kami bersyukur kepada Allah jika Anda bergabung dengan program kami. Mudah-mudahan ini bisa menjadi ladang amal sholeh yang menguntungkan untuk kita semua di dunia dan di akhirat.
Teknis Pelaksanaan di Masing-masing Mudiriyah
  1. Masing-masing mudiriyah membentuk lembaga pendidikan “Ma’had terbuka”.
  2. Mengumpulkan peserta didik dari anggota jamaah (sebagai kegiatan tarbiyah) dan dari luar anggota jamaah (sebagai kegiatan dawlam).
  3. Menyiapkan ustadz yang siap menerima setoran hafalan dan mampu membimbing tahsinul qur’an.
  4. Menyiapkan ustadz yang mampu mengajar tafsir Al-Qur’an tiap juz yang sedang dihafalkan[5].
  5. Menyiapkan ustadz yang mampu mengajar bahasa Arab kitab.
  6. Setoran hafalan bisa dilakukan setiap saat, sesuai kesepakatan dengan ustadz masing-masing sambil membenahi bacaan-bacaan yang kurang tepat (tahsinul qur’an).
  7. Menjadual kajian tafsir sekali sepekan (waktu sesuai kesepakatan bersama).
  8. Jika sudah selesai menghafal 1 juz maka diadakan ujian:
1.      Hafalan diujikan ke ma’had tahfizhul qur’an terdekat, jika memungkinkan.
2.      Ujian tafsir dilaksanakan dua tahap: ujian lisan dan tulis di tempat masing-masing.
3.      Untuk ujian bahasa Arab dibuat waktu tersendiri menyesuaikan dengan selesainya pembahasan yang akan diujikan.
Target Pencapaian
Target yang diharapkan dengan metode ini adalah peserta didik mampu menghafal Al-Qur’an (secara lafazh dan makna) dengan mudah dan ringan, tanpa banyak mengganggu aktivitas kesibukan sehari-hari yang menjadi kewajibannya.
Demikian, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla meridhoi dan memberi kemudahan menjalankan program ini, karena sesungguhnya Allah Maka Kuasa atas segala sesuatu.
 
 
SUMBER : KLIK DISINI

Sunday, 2 November 2014

KEUTAMAAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM


1.    Penamaan Bulan Ini
Kata Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Abu ‘Amr ibn Al ‘Alaa berkata, “Dinamakan bulan Muharram karena peperangan(jihad) diharamkan pada bulan tersebut(1); jika saja jihad yang disyariatkan lalu hukumnya menjadi terlarang pada bulan tersebut maka hal ini bermakna perbuatan-perbuatan yang secara asal telah dilarang oleh Allah Ta’ala memiliki penekanan pengharaman untuk lebih dihindari secara khusus pada bulan ini. Pada bulan ini Allah melarang umatnya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Seperti misalnya berperang, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang kuraisy sebelum datangnya agama Islam.

2.    Beberapa Keutamaan Bulan Muharram
a.     Bulan Muharram Merupakan Salah Satu Diantara Bulan-Bulan Haram
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at Taubah :36).
Pada ayat ini menerangkan kepada kita bahwa setelah penciptaan langit dan bumi Allah menciptakan bulan yang berjumlah 12 bulan yang mana bulan tersebut merupakan bulan tahun Hijriah. Dalam bulan-bulan tersebut terdapat 4 bulan yang paling istimewa diantara bulan yang lainnya, salah satunya adalah bulan Muharram. Pada bulan Muharram Allah mengharamkan umat islam melakukan perbuatan yang dilarang, (membunuh, berperang). Tetapi disana juga menjelaskan bahwa orang muslim harus memerangi orang kafir yang selalu mengajak kepada kehancuran. Yang dilakukan orang kafir, adalah bukan karena ingin merampas harta seperti yang dilakukan sebelum datangnya islam, merebut kekuasaan, balas dendam seperti yang telah dialami ketika umat islam mengusir orang kafir untuk meninggalkan Makkah dan Madinah, tetapi mereka menginginkan agama Islam hancur.
Salah seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in yang  bernama Qatadah bin Di’amah Sadusi rahimahulloh menyatakan, “Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezholiman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezholiman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezholiman adalah dosa yang besar(2).
Disinilah yang menjadi pokok pada bulan Muharram, bahwa diharamkan umat-Nya melakukankan berperang atau membunuh pada bulan-bulan istimewa tersebut, karena apabila melanggarnya, maka dosanya akan dilipat gandakan dari bulan-bulan yang lain. Dengan adanya larang tersebut berarti Allah juga akan memberikan pahala bagi umat-Nya yang mengerjakan alaman seperti yang disunahkan.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah radhiyallohu anhu, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan keempat bulan haram yang dimaksud :
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ  وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى  وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.” [ HR. Bukhari (3197) dan Muslim(1679) ]
Para ulama bersepakat bahwa keempat bulan haram tersebut memiliki keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain selain Ramadhan, namun demikian mereka berbeda pendapat, bulan apakah yang paling afdhal diantara keempat bulan haram yang ada ? Imam Hasan Al Bashri rahimahulloh dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah) dan tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan yang lebih agung di sisi Allah melebihi bulan Muharram(3).
b.     Bulan Muharram disifatkan sebagai Bulan Allah
Kedua belas bulan yang ada adalah makhluk ciptaan Allah, akan tetapi bulan Muharram meraih keistimewaan khusus karena hanya bulan inilah yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah). Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”.[ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu]
Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharram karena disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para Ulama telah menerangkan bahwa ketika suatu makhluk  disandarkan pada lafzhul Jalalah maka itu mengindikasikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluk tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi mesjid atau lebih khusus Ka’bah dan naqatullah (unta Allah) istilah bagi unta nabi Sholeh ‘alaihis salam dan lain sebagainya.
Al Hafizh Abul Fadhl Al ‘Iraqy rahimahulloh menjelaskan, “Apa hikmah dari penamaan Muharram sebagai syahrulloh (bulan Allah) sementara seluruh bulan milik Allah ? Mungkin dijawab bahwa hal itu dikarenakan bulan Muharram termasuk diantara bulan-bulan haram yang Allah diharamkan padanya berperang, disamping itu bulan Muharram adalah bulan perdana dalam setahun maka disandarkan padanya lafzhul Jalalah (lafazh Allah) sebagai bentuk pengkhususan baginya dan tidak ada bulan lain yang Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam sandarkan kepadanya lafzhul Jalalah melainkan bulan Muharram” (4)
As Suyuthi mengatakan: Dinamakan syahrullah – sementara bulan yang lain tak mendapat gelar ini – karena nama bulan ini “Al Muharram” nama nama islami. Berbeda dgn bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dgn nama : Shafar Awwal. Kemudian ketika islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dgn Al Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (5)
Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (6). karena itu, tak boleh ada sedikitpun riak & konflik di bulan ini.

3.    Amalan Yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Sebagaimana telah disebutkan di atas dari perkataan Qatadah rahimahulloh bahwa amalan sholeh dilipatgandakan pahalanya di bulan-bulan haram, dengan demikian secara umum segala jenis kebaikan dianjurkan untuk diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya di bulan Muharram. Adapun ibadah yang dianjurkan secara khusus pada bulan ini adalah memperbanyak puasa sunnah sebagaimana yang  telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu, beliau berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ  بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail”    [ HR. Muslim(11630) ]
Mulla Al Qari’ menyebutkan bahwa hadits di atas sebagai dalil anjuran berpuasa di seluruh hari bulan Muharram. Namun ada satu masalah yang kadang ditanyakan berkaitan dengan hadits ini yaitu, ‘Bagaimana memadukan antara hadits ini dengan hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallohu alaihi wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban yang menjadi bulannya Allah, bukan di bulan Muharram? Imam Nawawi rahimahullah telah menjawab pertanyaan ini, beliau mengatakan boleh  jadi Rasulullah shallallohu alaihi wasallam belum mengetahui keutamaan puasa Muharram kecuali di akhir hayat beliau atau mungkin ada saja beberapa udzur yang menghalangi beliau untuk memperbanyak berpuasa di bulan Muharram seperti beliau mengadakan safar atau sakit (7).
Kemudian anjuran berpuasa di bulan Muharram ini lebih dikhususkan dan ditekankan hukumnya pada hari yang dikenal dengan istilah Yaumul ‘Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan Muharram (‘asyuro). ‘Asyuro berasal dari kata ‘Asyarah yang berarti sepuluh. Pada hari ‘Asyuro ini, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro.

 4.    Hadits-Hadits Disyariatkannya Puasa ‘Asyuro
Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut banyak, kami akan sebutkan diantaranya  dengan pengklasifikasian sebagai berikut:
Kaum Yahudi juga berpuasa di hari Asyuro bahkan menjadikannya sebagai Ied (hari raya)
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ  هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata : Ketika Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘ Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pun bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa di tahun yang akan datang. [H.R. Bukhari (1865) dan Muslim(1910) ]
Hadis lain menjelaskan:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ
Dari Abu Musa radhiyallohu anhu berkata, “Hari ‘Asyuro adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda (kepada ummatnya), “Berpuasalah kalian (pada hari itu)[HR. Bukhari (1866) dan Muslim(1912), lafal hadits ini menurut periwayatan imam Muslim)
Kaum Quraiys di zaman Jahiliyah juga berpuasa Asyuro dan puasa ini diwajibkan atas kaum muslimin sebelum kewajiban puasa Ramadhan
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ  فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ . متفق عليه.
Dari Aisyah radhiyallohu anha berkata, Kaum Qurays pada masa Jahiliyyah juga berpuasa di hari ‘Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga berpuasa pada hari itu, ketika beliau telah tiba di Medinah maka beliau tetap mengerjakannya dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Setelah puasa Ramadhan telah diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyuro, seraya bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silakan tetap berpuasa dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa[ HR. Bukhari (1863) dan Muslim(1897) ]
عن عَبْد اللَّهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ  كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ  وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ (رواه مسلم)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma bahwa kaum Jahiliyah dulu berpuasa Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam serta kaum muslimin juga berpuasa sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari ‘Asyuro termasuk hari-hari Allah, barangsiapa ingin maka berpuasalah dan siapa yang ingin meninggalkan maka boleh[ HR. Muslim(1901) ]
Perhatian Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dan para sahabat ridwanullohi alaihim ajmain yang begitu besar terhadap puasa ‘Asyuro
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” [ H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914) ]
عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Dari Rubai’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ radhiyallohu ‘anha berkata, Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam di pagi hari Asyuro mengutus ke perkampungan kaum Anshar yang berada di sekitar Medinah (pesan), “Barangsiapa yang tidak berpuasa hari itu hendaknya menyempurnakan sisa waktu di hari itu dengan berpuasa dan barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya melanjutkan puasanya”. Rubai’ berkata, “Maka sejak itu kami berpuasa pada hari ‘Asyuro dan menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami buatkan untuk mereka permainan yang terbuat dari kapas lalu jika salah seorang dari mereka menangis  karena ingin makan maka kami berikan kepadanya permainan tersebut hingga masuk waktu berbuka puasa” [ HR. Bukhari (1960) dan Muslim (1136), redaksi hadits ini menurut periwayatan Imam Muslim ]

 5.    Keutamaan Puasa Asyuro
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Puasa hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun lalu” [ HR. Tirmidzi (753), Ibnu Majah (1738) dan Ahmad(22024). Hadits semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohih beliau (1162) ]
 a.     Bagi yang ingin berpuasa ‘Asyuro hendaknya berpuasa juga sehari sebelumnya
Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhuma berkata : Ketika Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) menyampaikan, “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pun bersabda:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“
Akan tetapi belum tiba Muharram tahun depan hingga Rasulullah shallallohu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut [ HR. Muslim (1134) ]
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma beliau berkata, “Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi[Diriwayatkan dengan sanad yang shohih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665) dan Ath Thobari di Tahdzib Al Aatsaar(1110)]
b.     Hukum Berpuasa Sehari Sesudah ‘Asyuro (tanggal 11 Muharram)
Imam Ibnu Qoyyim dalam kitab Zaadul Ma’aad setelah merinci dan menjelaskan riwayat-riwayat seputar puasa ‘Asyuro, beliau menyimpulkan : Ada tiga tingkatan berpuasa ‘Asyuro: Urutan pertama; dan ini yang paling sempurna adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11). Urutan kedua; puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits . Urutan ketiga, puasa tanggal 10 saja (8). Kesimpulan Ibnul Qayyim di atas didasari dengan sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. bersabda :
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
“Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ [HR. Imam Ahmad(2047), Ibnu Khuzaimah(2095) dan Baihaqi (8667)]
Namun hadits ini sanadnya lemah, Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh menyatakan, “Hadits ini sanadnya lemah karena salah seorang perowinya yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila  jelek hafalannya, selain itu riwayatnya menyelisihi riwayat ‘Atho bin Abi Rabah dan selainnya yang juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwa ini adalah perkataan  Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma sebagaimana yang disebutkan oleh Thahawi dan Baihaqi (9).
Dalam pandangan yang lain, hadist yang lemah boleh dilaksanakan, hal ini dikarenakan untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan umat-Nya. Bereda dengan hadist yang menjelaskan tentang syari’at. Maka hadist yang lemah tidak diperbolehkan untuk dijadikan sebagai landasan atau dasar.
Namun demikian puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11 Muharram) dikuatkan oleh para ulama dengan dua alasan:
1)        Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10).
2)        Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).
Adapun puasa tanggal 9 dan 10, pensyariatannya dinyatakan dalam hadis  yang shahih, dimana Rasulullah  shallallohu alaihi wasallam pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksanakannya. Beliau juga telah memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Sedangkan puasa pada tanggal sepuluh saja; sebagian ulama memakruhkannya, meskipun sebagian ulama yang lain memandang tidak mengapa jika hanya berpuasa ‘Asyuro (tanggal 10) saja, wallohu a’lam. Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah shallallohu alaihi wasallam untuk melakukan puasa, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan tentunya kita sepatutnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.  


 Keterangan:
  1. Tarikh Ad Dimasyq 1/51
  2. Tafsir Al Baghawi dan Tafsir Ibn Katsir
  3. Lathoif Al Ma’arif hal 36
  4. Hasyiah As Suyuthi ‘ala Sunan An Nasaai
  5. Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3/252
  6. Lathaif al-Ma’arif, hal. 34
  7. Al Minhaj Syarah Shohih Muslim bin Hajjaj
  8. Zaadul Ma’aad 2/63
  9. Ta’liq Shohih Ibn Khuzaimah (3/290)

Sunday, 16 December 2012

Bukti Tuhan itu Ada

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.
Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.
“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”
Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.
“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.
Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”
“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.
Orang banyak berkata, “Tidak!”
“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.
Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.
Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.
Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.
Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]
Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]
“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]
Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]
Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]
“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?”[Al Waaqi’ah:63-64]
“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]
Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:
“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]
Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta.

Silahkan baca juga:
Sumber:

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.
Sebagai contoh ayat di bawah:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)

Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Langit yang mengembang (Expanding Universe)
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. 

Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)
Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia
“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]
Foto Fir'aun Ramses 2Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II Dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.  Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817.Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan
Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]
Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan. 

Tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari keajaiban Al Qur’an yang ada dan ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern. Bagi yang ingin tahu lebih banyak silahkan baca buku referensi di bawah.
Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.
”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]
Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di dalamnya:
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” [An Nisaa’:82]
Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia (Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.
Silahkan baca juga:
Sumber:
Harun Yaya
Mukjizat Al Qur’an, Prof. Dr. Quraisy Syihab
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
http://harry.sufehmi.com/archives/2006-06-15-1181/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...